Lombok Timur – Institut Agama Islam (IAI) Hamzanwadi Pancor menggelar visiting lecturer dan Ngaji Akademik yang diikuti civitas akademika, khususnya para dosen, Rabu (12/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat tradisi akademik sekaligus meningkatkan kapasitas dosen dalam menjalankan tugas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Wakil Rektor I IAI Hamzanwadi Pancor, Dr. H. Abdul Hayyi Akrom, M.Pd., mengatakan civitas akademika memiliki banyak teladan yang dapat dijadikan rujukan dalam menjalankan profesi sebagai dosen. Salah satunya adalah pendiri Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI), Maulana Syekh Tuan Guru KH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid.
Menurut Abdul Hayyi, Maulana Syekh merupakan ulama, mursyid sekaligus pejuang yang meninggalkan nilai-nilai perjuangan dan akademik yang relevan untuk terus dikaji dan diteladani.
"Nilai-nilai perjuangan dan nilai-nilai akademik yang ditinggalkan Maulana Syekh sangat lengkap untuk kita kaji dan kita tiru dalam menjalani profesi sebagai seorang dosen," kata Abdul Hayyi, Rabu (12/8/2026).
Dia menegaskan tradisi akademik dan keilmuan harus terus dihidupkan di lingkungan IAI Hamzanwadi Pancor. Terlebih, nama Hamzanwadi melekat dengan sosok ulama dan ilmuwan yang memiliki reputasi luas dalam dunia keislaman maupun konteks keindonesiaan.
"Bagi civitas akademika IAI Hamzanwadi Pancor, menghidupkan tradisi belajar dan memaksimalkan profesi dosen kapan pun dan di mana pun merupakan bagian dari meneruskan perjuangan Maulana Syekh Tuan Guru KH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid," ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut hadir Guru Besar Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember, Prof. Dr. Muhammad Husnur Rofiq, M.Pd. Ia merupakan mantan Rektor IAIN Jember periode 2004-2012 dan dikenal aktif dalam pengembangan manajemen pendidikan Islam.
Dalam pemaparannya, Muhammad Husnur Rofiq menekankan pentingnya dosen untuk terus memperbarui pengetahuan dan meningkatkan kapasitas diri, baik melalui literasi maupun pengembangan keilmuan.
Ia juga menilai sosok Hamzanwadi dapat menjadi inspirasi bagi dosen IAI Hamzanwadi Pancor untuk melakukan transformasi serta merevitalisasi nilai-nilai perjuangan dan keilmuan yang diwariskan Maulana Syekh.
Sementara itu, Direktur Pascasarjana IAI Hamzanwadi Pancor, Prof. Dr. Muhammad Taufik, M.Ag., menekankan profesi dosen harus dipandang sebagai bagian dari ibadah.
Menurutnya, mengajarkan ilmu yang bermanfaat kepada orang lain merupakan profesi yang mulia. Karena itu, dosen dituntut menjalankan tugas dengan sungguh-sungguh sekaligus terus belajar untuk meningkatkan kompetensi.
"Profesi dosen adalah bagian dari ibadah yang mulia, yakni mengajarkan ilmu-ilmu yang bermanfaat kepada sesama," jelasnya.
Dia menambahkan, semakin tinggi kapasitas seorang dosen, semakin besar pula manfaat ilmu yang dapat diberikan kepada mahasiswa dan masyarakat.
Abdul Hayyi mengatakan kegiatan visiting lecturer dan Ngaji Akademik tersebut sejalan dengan arahan Rektor IAI Hamzanwadi Pancor agar civitas akademika terus mengembangkan kapasitas diri.
Dia berharap tradisi belajar yang terus dibangun dapat membuka ruang kebermanfaatan yang lebih luas bagi civitas akademika maupun masyarakat.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara IAI Hamzanwadi Pancor dan UIN KHAS Jember.
Kerja sama tersebut mencakup berbagai bidang, di antaranya pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi dan peningkatan sumber daya manusia. Kegiatan juga ditutup dengan pertukaran cenderamata antara kedua institusi sebagai simbol penguatan hubungan kerja sama dan sinergi di bidang pendidikan tinggi.
