Lombok Timur — Pesisir Desa Sugian kembali menggeliat dalam semangat pelestarian lingkungan. Memperingati Hari Mangrove Sedunia, Kelompok Program Kampung Iklim (Proklim) Kokok Pedek Timur bersama tim Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) sukses menginisiasi gerakan konservasi terpadu. Tak sekadar seremonial, aksi ini menggabungkan edukasi publik lewat Conservation Talk Show serta komitmen pemeliharaan jangka panjang melalui program inovatif Adopsi Pohon.
Acara diawali dengan Conservation Talk Show yang membedah krisis iklim serta potensi pesisir dari berbagai sudut pandang. Sesi diskusi ini menjadi istimewa karena menghadirkan lima perspektif kunci sekaligus: perwakilan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Provinsi, Akademisi, Tokoh Pecinta Lingkungan, Tokoh Pemuda, hingga Tokoh Agama.
Perwakilan Dinas LHK Provinsi menekankan pentingnya regulasi dan pengelolaan kawasan pesisir berbasis keberlanjutan. Dari sisi ilmiah, pakar akademisi mengulas peran mangrove sebagai carbon sink (penyerap karbon) raksasa yang jauh lebih efektif dibanding hutan daratan. Sementara itu, pandangan dari tokoh agama dan tokoh pecinta lingkungan memberikan pemahaman moral bahwa menjaga alam adalah bagian dari amanah spiritual dan kebudayaan lokal. Kehadiran tokoh pemuda turut menegaskan peran generasi muda sebagai garda terdepan penggerak aksi di lapangan.
Puncak dari rangkaian kegiatan ini diwujudkan melalui penanaman fisik berupa program Adopsi Pohon. Berbeda dari kegiatan penanaman pohon pada umumnya yang kerap berhenti setelah bibit ditancapkan, skema di Sugian ini menekankan prinsip keberlanjutan. Sebanyak 310 bibit disiapkan dalam aksi ini, di mana 300 bibit mangrove merupakan dukungan penuh dari PT PLN Nusantara Power UP Sambelia sebagai bentuk kepedulian korporasi, serta 10 bibit pohon tambahan yang disumbangkan langsung oleh penggiat lingkungan.
Melalui program ini, para pemilik/donatur adopsi akan mendapatkan komitmen pemeliharaan selama durasi 3 tahun. Selama kurun waktu tersebut, tim pengelola lokal bersama mahasiswa akan melakukan perawatan rutin serta pendataan secara berkala. Para pengadopsi nantinya akan menerima laporan perkembangan pertumbuhan bibit mangrove milik mereka secara transparan dan terukur. Skema ini dirancang untuk menekan tingkat kematian bibit tanaman yang sering kali menjadi masalah utama dalam kegiatan reboisasi pesisir.
Inisiatif yang lahir dari kolaborasi Proklim Kokok Pedek Timur dan KKN PPM UGM ini membuktikan bahwa perlindungan ekosistem pesisir tidak bisa dilakukan secara parsial. Dengan keterlibatan masyarakat lokal, akademisi, sektor swasta, hingga pemerintah daerah, kawasan pesisir Desa Sugian diharapkan tak hanya tangguh menerjang abrasi dan dampak perubahan iklim, tetapi juga mampu memberi dampak ekonomi-ekologis berkelanjutan bagi warga sekitar dalam jangka panjang.
